21:42:03 - 01.07.2016
Powered By JosXP.com

Anda Pengunjung ke:

Untuk Kalangan Sendiri

Website Ini Untuk Kalangan Sendiri, Untuk Kalangan Kristen dan Katolik. Artikel di ambil dari berbagai sumber.
Isi di luar tanggung jawab redaksi.

S u r v e y

Apakah anda percaya adanya Surga dan Neraka?
 
Selain Yesus, siapakah Tokoh Alkitab favorit anda?
 
Jika anda mati malam ini, anda akan pergi ke:
 
Baptisan Apa Yang Anda Alami
 
Apakah Anda Memberi Persepuluhan Ke Gereja?
 
HOME
Welcome to YesusKristus.com
Mengapa Kata “Allah” dan “TUHAN” dipakai dalam Alkitab Kita?

Pengantar

Kata “Allah” masih dipersoalkan oleh sebagian pengguna Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Persoalan ini mencuat ke permukaan, karena ada beberapa kelompok yang menolak penggunaan kata “Allah” dan ingin menghidupkan kembali penggunaan nama Yahweh atau Yahwe. Dalam teks Ibrani sebenarnya nama Yahweh atau Yahwe ditulis hanya dengan empat huruf konsonan (YOD-HE-WAW-HE, “YHWH”) tanpa huruf vokal. Tetapi, ada yang bersikeras, keempat huruf ini harus diucapkan. Terjemahan LAI dianggap telah menyimpang, bahkan menyesat­kan umat kristiani di tanah air. Apakah LAI yang dipercaya gereja-gereja untuk menerjemah­kan Alkitab telah melakukan kesalahan yang begitu mendasar? Di mana sebenarnya letak persoalannya? Penjelasan berikut bertujuan untuk memaparkan secara singkat pertimbangan-pertimbangan yang melandasi kebijakan LAI dalam persoalan ini

Mengapa LAI menggunakan kata “Allah”?
Dalam Alkitab Terjemahan Baru (1974) yang digunakan secara luas di tanah air, baik oleh umat Katolik maupun Protestan, kata “Allah” merupakan padanan ’ELOHIM, ’ELOAH  dan ’EL dalam Alkitab Ibrani:

  • Kej 1:1 “Pada mulanya Allah (’ELOHIM) menciptakan langit dan bumi”.
  • Ul 32:17 “Mereka mempersembahkan kurban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah (’ELOAH).
  • Mzm 22:2 “Allahku (EL), Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”

Dari segi bahasa, tidak dapat dipungkiri, kata ’ELOHIM, ’ELOAH  dan ’EL berkaitan dengan akar kata ’L, dewa yang disembah dalam dunia Semit kuno. EL, ILU atau ILAH adalah bentuk-bentuk serumpun  yang umum digunakan untuk dewa tertinggi. Umat Israel kuno ternyata memakai istilah yang digunakan oleh bangsa-bangsa sekitarnya. Apakah hal itu berarti bahwa mereka penganut politeisme? Tentu saja, tidak! Umat Israel kuno memahami kata-kata itu secara baru. Yang mereka sembah adalah satu-satunya Pencipta langit dan bumi. Proses seperti inilah yang masih terus bergulir ketika firman Tuhan mencapai berbagai bangsa dan budaya di seluruh dunia.

Beberapa kelompok yang menolak kata “Allah” memang ber­pendapat, kata itu tidak boleh hadir dalam Alkitab umat kristiani. Ada yang memberi alasan bahwa “Allah” adalah nama Tuhan yang disembah umat Muslim. Ada pula yang mengait­kannya dengan dewa-dewi bangsa Arab. Seandainya pendirian ini benar, tentu ’EL, ’ELOAH dan ’ELOHIM pun harus dicoret dari Alkitab Ibrani! Lagi pula, beberapa inskripsi yang ditemukan pada abad keenam menunjukkan bahwa kata “Allah” telah digunakan umat kristiani Ortodoks sebelum lahirnya Islam. Hingga kini, umat kristiani di negeri seperti Mesir, Irak, Aljazair, Yordania dan Libanon tetap memakai “Allah” dalam Alkitab mereka. Jadi, kata “Allah” tidak dapat diklaim sebagai milik satu agama saja.

Kebijakan LAI dalam menerjemahkan ’ELOHIM, ’ELOAH  dan ’EL sama sekali bukan hal baru. Terjemahan Alkitab yang pertama ke dalam bahasa Yunani sekitar abad ketiga SM. merupakan contoh tertua yang kita miliki. Terjemahan yang dikenal dengan nama “Septuaginta” dikerjakan di Aleksandria, Mesir, dan ditujukan bagi umat Yahudi berbahasa Yunani. Dalam Kejadian 1:1, misalnya, Septuaginta meng­guna­kan istilah THEOS yang biasa dipakai untuk dewa-dewa Yunani. Nyatanya, Perjanjian Baru pun memakai kata yang sama, seperti contoh berikut: ”Terpujilah Allah (THEOS), Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (2 Kor 1:3). Tentu, THEOS dalam kutipan ini tidak dipahami sebagai sembahan politeis.


KATA "ALLAH" DALAM SEJARAH PENERJEMAHAN ALKITAB DI NUSANTARA

 

Sebelum Alkitab TB-LAI diterbitkan pada tahun 1974, telah ada beberapa Alkitab dalam bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal bahasa Indonesia. Injil Matius terjemahan A. C. Ruyl (1629) adalah upaya pertama dalam penerjemahan Alkitab di nusantara. Menariknya, dalam terjemahan perdana ini, kata “Allah” telah digunakan, seperti contoh berikut: “maka angkou memerin’ja nama Emanuel artin’ja Allahu (THEOS) ſerta ſegala kita” (Mat 1:23). Terjemahan selanjutnya juga mempertahankan kata “Allah”, antara lain:

  • Terjemahan Kitab Kejadian oleh D. Brouwerius (1662): “Lagi trang itou Alla ſouda bernamma ſeang” (Kej 1:5).
  • Terjemahan M. Leijdecker (1733): “Pada mulanja dedjadikanlah Allah akan ſwarga dan dunja” (Kej 1:1).
  • Terjemahan H.C. Klinkert (1879): “Bahwa-sanja Allah djoega salamatkoe” (Yes 12:2).
  • Terjemahan W.A. Bode (1938): “Maka pada awal pertama adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah”.

Seperti tampak pada contoh-contoh di atas, kata “Allah” yang baru belakangan ini dipersoalkan oleh sebagian umat kristiani telah digunakan selama ratusan tahun dalam terjemahan-terjemahan Alkitab yang beredar di nusantara. Singkatnya, ketika meneruskan penggunaan kata “Allah”, tim penerjemah LAI mempertimbangkan bobot sejarah maupun proses penerjemahan lintas-budaya yang sudah terlihat dalam Alkitab sendiri.

Apa dasar kebijakan LAI dalam soal “YHWH”?

Harus diakui, asal-usul nama YHWH tidak mudah ditelusuri. Dari segi bahasa, YHWH sering dikaitkan dengan kata HAYAH ‘ada, menjadi’, seperti yang terungkap dalam Keluaran 3:14: “Firman Allah (’ELOHIM) kepada Musa: ‘AKU ADALAH AKU.’ (’EHYEH ’ASHER ’EHYEH). Lagi firman-Nya: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU (’EHYEH) telah mengutus aku kepadamu.’” Maknanya yang persis tidak diketahui lagi, namun ada yang menafsirkannya sebagai kehadiran Tuhan yang senantiasa ‘ADA’ menyertai sejarah umat-Nya.

Apa dasar LAI menggunakan kata “TUHAN” (seluruhnya huruf besar) sebagai padanan untuk YHWH? Untuk menjawab ini, kita perlu memperhatikan sejarah. Umat Yahudi sesudah masa pembuangan amat segan menye­but nama sakral YHWH secara langsung oleh karena rasa hormat yang mendalam. Lagi pula, pengucapan YHWH yang persis tidak diketahui lagi. Setiap kali bertemu kata YHWH dalam Alkitab Ibrani, mereka menyebut ’ADONAY yang berarti ‘Tuhan’. Tradisi pengucapan ini juga terlihat jelas dalam Septuaginta yang menggunakan kata KYRIOS (‘Tuhan’) untuk YHWH, seperti contoh berikut: ”KYRIOS menggembala­kan aku, dan aku tidak kekurangan apa pun” (Mzm 23:1).

Ternyata, Yesus dan para rasul mengikuti tradisi yang sama! Sebagai contoh, dalam pen­cobaan di gurun, Yesus menjawab godaan Iblis dengan kutipan dari Ulangan 6:16: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan (KYRIOS), Allahmu” (Mat 4:7). Dalam kutipan ini tidak ditemukan nama YHWH melainkan KYRIOS. Jika nama YHWH harus ditulis seperti dalam teks Ibrani, mengapa penulis Injil Matius tidak mempertahankannya? Begitu pula, dalam surat-surat rasul Paulus tidak pernah digunakan nama YHWH. Dalam Roma 10:13, misalnya, Paulus mengutip Yoel 2:32: “Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan (KYRIOS) akan diselamatkan”. Terbukti, kata yang digunakan adalah KYRIOS, bukan YHWH.

Mungkinkah Yesus dan para rasul telah mengikuti suatu tradisi yang “keliru”? Tentu saja, tidak! Para penulis Perjanjian Baru justru mengikuti tradisi umat Yahudi yang menyebut ’ADONAY (‘TUHAN’) setiap kali bertemu nama YHWH. Karena Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, kata KYRIOS dipakai sebagai padanan untuk ’ADONAY yang mencerminkan tradisi pengucapan YHWH.

Singkatnya, LAI mengikuti teladan Yesus dan umat kristiani per­dana menyangkut pengucapan YHWH. Dalam Alkitab TB-LAI, kata “TUHAN” ditulis dengan huruf besar semua sebagai padanan untuk ’ADONAY yang mengingat­kan tradisi pengucapan itu. Penulisan ini memang  sengaja dibedakan ­dengan “Tuhan” (hanya huruf pertama besar), padanan untuk ’ADONAY yang tidak merepresentasi YHWH. Perhatikan contoh berikut: “Sion berkata: ‘TUHAN (YHWH) telah mening­gal­kan aku dan Tuhanku (’ADONAY) telah melupakan aku.’” (Yes 49:14). Pem­bedaan ini tentu tidak relevan untuk Perjanjian Baru yang tidak memper­tahankan penulisan YHWH.

Berbagai terjemahan modern juga mengikuti tradisi yang sama, misalnya, dalam bahasa Inggris: “the LORD” (New Jewish Publication Society Version; New Revised Standard Version, New International Version, New King James Version, Today’s English Version); Jerman: “der HERR” (Einheits­übersetzung; die Bibel nach der Übersetzung Martin Luthers); Belanda: “de HEER” (Nieuwe Bijbelvertaling); Perancis”: “le SEIGNEUR” (Traduction Oecumé­ni­que de la Bible).


Penutup

 

Kebijakan LAI mengenai padanan untuk nama-nama ilahi tidak diambil secara simplistis. Berbagai aspek harus dipertimbangkan dengan matang, antara lain:

  • Teks sumber (Ibrani dan Aram untuk Perjanjian Lama; Yunani untuk Perjan­jian Baru) dan tafsirannya.
  • Tradisi umat Tuhan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
  • Sejarah pemakaian nama-nama ilahi dalam penerjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa dan budaya dari zaman ke zaman.
  • Kebijakan yang diikuti tim-tim penerjemahan Alkitab di seluruh dunia, khususnya yang bergabung dalam Perserikatan Lembaga-lembaga Alkitab se-Dunia (United Bible Societies).

Kesepakatan yang diambil bersama dengan gereja-gereja, baik Katolik mau­pun Protestan, yang menggunakan Alkitab terbitan LAI hingga saat ini. Menjelang penyelesaian Alkitab TB-LAI, misalnya, pada tahun 1968 diadakan konsultasi di Cipayung dengan para pimpinan dan wakil gereja-gereja dari berbagai denominasi. Dalam konsultasi ini, antara lain, disepakati agar kata “Allah” tetap digunakan seperti dalam terjemahan-terjemahan sebelumnya.

LAI tidak pernah berpretensi seolah-olah terjemahannya sudah sempurna dan tidak perlu diperbaiki lagi. Akan tetapi, mengingat proses panjang dan berhati-hati yang ditempuh dalam menerbitkan Alkitab, tuntutan beberapa kelompok yang ingin menyingkirkan atau memulihkan nama tertentu, tidak dapat dituruti begitu saja. Dalam semua proses pengambilan keputusan menyangkut terjemahan Alkitab, berbagai faktor harus dipertimbangkan dengan saksama menyangkut teks-teks sumber, tafsirannya, tradisi penerjemahan sampai dampaknya bagi persekutuan dan kesaksian umat Tuhan bersama-sama, khususnya di tanah air kita.

Akhirnya, dengan penuh kesadaran akan terbatasnya kemampuan manusia di hadapan Allah, kita patut mempersembahkan puji syukur kepada Dia yang telah menyatakan firman yang diilhamkan-Nya untuk mendidik orang dalam kebenaran dan memperlengkapi umat-Nya untuk setiap perbuatan baik (2 Tim 3:16-17). Dialah yang telah mempersiapkan orang-orang untuk menjelmakan firman kebenaran-Nya dalam aneka bahasa dan  budaya dari masa ke masa. Segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. [bfk]

(Sumber LAI Online)

 

REDAKSI:

Saudaraku yang kekasih,

Tidak perlu berdebat mengenai nama YHWH. Yesus datang kedunia, untuk memperkenalkan bagaimana seharusnya kita menyebut nama Nya: Panggil dia Abba.
Alkitab LAI pun menterjemahkan secara tepat yaitu “Abba” dari bahasa Ibrani aslinya.

Roma 8:15. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”

Jadi panggilah dia “Abba” atau panggil dia Bapa karena sesungguhnya dialah Bapa kita. 

 
Persembahan Buah Sulung bukan untuk orang Kristen!

PERSEMBAHAN BUAH SULUNG ADALAH HUKUM TAURAT UNTUK ORANG ISRAEL BUKAN UNTUK ORANG KRISTEN

 

"Buah Sulung" sama sekali tidak mengartikan mempersembahkan keseluruhan hasil panen/ keseluruhan income dipersembahkan kepada Tuhan. Bahkan ada pendeta yang meminta gaji bukan Januari karena bulan Januari adalah sulung dari setiap tahun. Ini KELIRU!

1. ETIMOLOGI:


Perjanjian Lama: Sebagai ucapan syukur atas panenan yang diperoleh, maka petani Israel menyerahkan sebagian hasil panennya kepada Allah. Pada waktu semula mereka persembahkan buah-hasil yang pertama. Di waktu kemudian sering terjadi, bahwa yang mereka persembahkan adalah yang kwalitatif terbaik (gandum, buah anggur, buah jaitun, bulu domba). Bagian panen yang pertama itu disiapkan untuk kenisah atau untuk para imam (semacam pajak), terutama pada pesta-pesta panen, namun persembahan ini bukan merupakan pemberian keseluruhan hasil panen tetapi hanya seberkas saja (Imamat 23:10-11, 17). Doa yang di ucapkan bersamanya (Ulangan 26:5-10) merupakan suatu ungkapan untuk memuja Tuhan sebagai pemberi tanah yang subur (mengenai peraturan tentang doa itu lihat Bilangan 15:17-21; 18:12-13; Imamat 19:24 dan lain-lain). --

Di dalam Perjanjian Baru: Hanya diketahui dalam arti kiasan dan dikaitkan pada Kristus (1 Korintus 15:20,23), pada Roh Allah (Roma 8:23) dan pada pengikut Kristus (Roma 16:5; 1 Korintus 16:15; Yakobus 1:18). --> Anak Sulung (lihat di anak-sulung-vt201.html#p389 )



2. PENYIMPANGAN ATURAN PERSEMBAHAN "BUAH SULUNG" YANG DITERAPKAN DI DALAM GEREJA2 ALIRAN BARU:


Dalam penerapannya dewasa ini di Indonesia terjadi di sebagian gereja-gereja aliran baru / yang merupakan denominasi baru antara tahun 1980an kemari.  Di gereja-gereja ini terdapat penerapan "Persembahan buah sulung" sebagai hal yang wajib dilakukan oleh jemaat yang merupakan "Hasil Pertama Penghasilan" sering diistilahkan sebagai "Buah Sulung" . Saya tidak membicarakan soal kerelaan atau ketidak-relaan memberi persembahan, tetapi ulasan di bawah ini membicarakan tentang Kewajibannya yang tertulis dalam Alkitab. Dan, saya juga tidak melarang orang memberikan persembahan, tetapi mengungkapkan suatu ajaran/ ketentuan yang dibuat gereja-gereja tsb yang tidak ada dasarnya sama sekali dalam Alkitab. 

Jikalau ada seorang pendeta mewajibkan jemaatnya memberikan PERSEMBAHAN BUAH SULUNG, dengan menyatakan bahwa keseluruhan income entah berupa gaji pertama atau profit pertama yang keseluruhannya diharuskan dibayarkan kepada gereja, maka harus ada dasarnya yang dapat dipertanggung-jawabkan dalam ajaran/ khotbahnya itu. 


Kita lihat dengan cermat apa yang tertulis dalam Alkitab : 


PERSEMBAHAN BUAH SULUNG, merupakan kewajiban dalam ibadah bani Israel, 2 Mitsvot dari 613 Mitsvot menyinggung tentang PERSEMBAHAN BUAH SULUNG, sbb : 


MITSVOT ke-472: 
MEMBAWA BUAH SULUNG KE TEMPAT KUDUS.

* Keluaran 23:19
"Yang terbaik dari buah bungaran hasil tanahmu haruslah kaubawa ke dalam rumah TUHAN, Allahmu. Janganlah kaumasak anak kambing dalam susu induknya.



MITSVOT ke-560: 
MEMBACA BAGIAN TENTANG PERSEMBAHAN BUAH SULUNG

* Ulangan 26:5-10
26:5 Kemudian engkau harus menyatakan di hadapan TUHAN, Allahmu, demikian: Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara. Ia pergi ke Mesir dengan sedikit orang saja dan tinggal di sana sebagai orang asing, tetapi di sana ia menjadi suatu bangsa yang besar, kuat dan banyak jumlahnya.
26:6 Ketika orang Mesir menganiaya dan menindas kami dan menyuruh kami melakukan pekerjaan yang berat,
26:7 maka kami berseru kepada TUHAN, Allah nenek moyang kami, lalu TUHAN mendengar suara kami dan melihat kesengsaraan dan kesukaran kami dan penindasan terhadap kami.
26:8 Lalu TUHAN membawa kami keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, dengan kedahsyatan yang besar dan dengan tanda-tanda serta mujizat-mujizat.
26:9 Ia membawa kami ke tempat ini, dan memberikan kepada kami negeri ini, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
26:10 Oleh sebab itu, di sini aku membawa hasil pertama dari bumi yang telah Kauberikan kepadaku, ya TUHAN. Kemudian engkau harus meletakkannya di hadapan TUHAN, Allahmu; engkau harus sujud di hadapan TUHAN, Allahmu,



Reff : 613 MITSVOT di, 613-mitsvot-vt218.html#p431




Buah Sulung itu dalam ibadah Bani Israel diidentikan dengan Perayaan HARI RAYA BUAH SULUNG, ספירת העומר - SFIRAT HA'OMER yang disebut di Imamat 23. Petunjuk Pelaksanaannya adalah : yang dibawa itu adalah seberkas gandumdan 2 roti sebagai buah sulung :

* Imamat 23:10-11, 17 
23:10 LAI TB, "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu sampai ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, dan kamu menuai hasilnya, maka kamu harus membawa seberkas hasil pertama dari penuaianmu kepada imam,
KJV, Speak unto the children of Israel, and say unto them, When ye be come into the land which I give unto you, and shall reap the harvest thereof, then ye shall bring a sheaf of the firstfruits of your harvest unto the priest:
Hebrew, 
דַּבֵּר אֶל־בְּנֵי יִשְׂרָאֵל וְאָמַרְתָּ אֲלֵהֶם כִּי־תָבֹאוּ אֶל־הָאָרֶץ אֲשֶׁר אֲנִי נֹתֵן לָכֶם וּקְצַרְתֶּם אֶת־קְצִירָהּ וַהֲבֵאתֶם אֶת־עֹמֶר רֵאשִׁית קְצִירְכֶם אֶל־הַכֹּהֵן׃
Translit interlinear, DABBER {kamu berbicara} 'EL-BENEY {kepada anak-anak dari} YISRA'EL {israel} VE'AMARTA {dan kamu berbicara} 'ALEHEM {kepada mereka} KI {bahwa}-TAVO'U {kalian akan sampai} 'EL-HA'ARETS {ke tanah} 'ASYER {dimana} 'ANI {Aku} NOTEN {memberikan} LAKHEM {kepada kalian} UQETSARTEM {dan kalian akan menuai} 'ET-QETSIRAH {tuaiannya} VAHAVÊ'TEM {dan kalian akan membawa} 'ET-'OMER {seberkas dari} RE'SYIT {yang pertama} QETSIRKHEM {tuaian kalian} 'EL-HAKOHEN {kepada imam} ===> perhatikan "seberkas" bukan "keseluruhan"

23:11 LAI TB, 
dan imam itu haruslah mengunjukkan berkas itu di hadapan TUHAN, supaya TUHAN berkenan akan kamu. Imam harus mengunjukkannya pada hari sesudah sabat itu.
KJV, And he shall wave the sheaf before the LORD, to be accepted for you: on the morrow after the sabbath the priest shall wave it.
Hebrew, 
וְהֵנִיף אֶת־הָעֹמֶר לִפְנֵי יְהוָה לִרְצֹנְכֶם מִמָּחֳרַת הַשַּׁבָּת יְנִיפֶנּוּ הַכֹּהֵן׃
Translit interlinear, VEHENIF {dan ia akan mengibaskan} 'ET-HA'OMER {berkas (panenan) itu} LIFNEY {di hadapan} YEHOVAH {baca 'Adonay, TUHAN} LIRTSONEKHEM {untuk menerima/ berkenan kpd kalian} MIMOKHORAT {keesokan hari} HASYABAT {sabat} YENIFENU {dan ia akan mengibaskannya} HAKOHEN {imam} ==> perhatikan : karena hanya seberkas, maka bisa dikibas2kan 

23:17 LAI TB, 
Dari tempat kediamanmu kamu harus membawa dua buah roti unjukan yang harus dibuat dari dua persepuluh efa tepung yang terbaik dan yang dibakar sesudah dicampur dengan ragi sebagai hulu hasil bagi TUHAN. 
KJV, Ye shall bring out of your habitations two wave loaves of two tenth deals; they shall be of fine flour; they shall be baken with leaven; they are the firstfruits unto the LORD. 
Hebrew, 
מִמֹּושְׁבֹתֵיכֶם תָּבִיאּוּ ׀ לֶחֶם תְּנוּפָה תַּיִם שְׁנֵי עֶשְׂרֹנִים סֹלֶת תִּהְיֶינָה חָמֵץ תֵּאָפֶינָה בִּכּוּרִים לַיהוָה׃
Translit interlinear, MIMO'OSYVOTEYKHEM {dari tempat kediaman kalian} TAVI'U {kalian harus membawa} LEKHEM {roti} TENUFAH {untuk dikibaskan/ diunjukkan} SYETAYIM {dua} SYENEY {dari dua} 'ESRONIM {sepersepuluh} SOLET {tepung efa} TIHYEYNA {mereka harus} KHAMETS {ragi} TE'AFEYNA {mereka harus membakar} BIKURIM {buah sulung} LAYEHOVAH {kepada YHVH, baca 'Adonay, TUHAN}


Sangat jelas di atas menulis bahwa PERSEMBAHAN BUAH SULUNG adalah seberkas gandum (bukan keseluruhan panen). Jadi, sejumlah sedikit saja, perhatikan ayat Imamat 23:10-11, "berkas gandum" itu saking sedikitnya sehingga bisa dikibas-kibaskan oleh Imam. 
(Kalau seonggok gandum atau bahkan seluruh gandum hasil panen tentu tidak dapat dikibas2kan oleh sang Imam). 


Kemudian selain dari berkas gandum itu, untuk PERSEMBAHAN BUAH SULUNG umat Israel disuruh membawa 2 roti sebagai "hulu hasil" (Imamat 23:17).

Hehehe..... bayangin muka pendeta-pendeta yang mewajibkan jemaatnya mempersembahkan "persembahan buah sulung", kemudian ada jemaatnya datang ke gerejanya bawa 2 ketul roti dan seberkas gandum...... (sepertinya mereka2 akan prefer duit ajah :D )


Sekarang bandingkan dengan :

* Roma 11:16 
Jikalau roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan juga kudus, dan jikalau akar adalah kudus, maka cabang-cabang juga kudus.



Paulus berbicara juga tentang "BUAH SULUNG" itu dalam penggambaran korban Yesus, bahwa 1 orang saja sebagai korban penghapus dosa bagi seluruh dosa umat manusia. Jelas sekali yang penting itu bukan jumlahnya apalagi keseluruhan hasilnya, tapi persembahan sulung merupakan lambang dari sebuah persembahan yaitu dengan memberikan sebagian untuk dikuduskan untuk Tuhan. artinya umat Israel diajar untuk menunjukkan kemauan/intent kalau sudah menguduskan seberkas buah sulungnya itu juga akan menguduskan sisanya untuk Tuhan juga, dan kemudian umatnya sendirilah yang menentukan untuk diapakan sisa dari hasil panennya.
Roma 11:16 memakai istilah "yang sulung" sebagai "shadow image" (melambangkan) dari Yesus Kristus yang dipersembahkan sebagai korban untuk menguduskan sisanya.


Jadi, jelas sekali "Buah Sulung" sama sekali tidak mengartikan mempersembahkan keseluruhan hasil panen/ keseluruhan income dipersembahkan kepada Tuhan. Bahkan ada pendeta yang meminta gaji bulan Januari karena bulan Januari adalah sulung dari setiap tahun. Ini KELIRU!
Jikalau ada ajaran yang mengajarkan persembahan Buah Sulung itu memberikan keseluruhan gaji bagi gereja, jelas tidak ada dasarnya sama sekali, dan justru menunjukkan pendetanya maruk, meng-abuse Firman Tuhan dan mengelabuhi jemaat untuk income gerejanya/ pribadinya :)

Jikalau PERSEMBAHAN BUAH SULUNG yang notebene adalah bagian dari Hukum Taurat, dianggap sebagai suatu kewajiban yang mengikat umat Kristen, pendeta yang mengajar tsb harus juga mengingat bahwa HUKUM TAURAT ada 613 Hukum!

Dan boleh-boleh saja menggunakan peraturan Taurat dalam ibadah, tetapi peraturannya total ada 613! tidak boleh kurang.

Kalau mengabaikan 1 saja dari semuanya, 612 pelaksanaan Taurat pun tidak bermakna apa-apa, karena ia sudah dianggap bersalah kepada semuanya : 

* Yakobus 2:10 
Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.



Apakah Anda masih di bawah Hukum Taurat?
Ataukah di bawah Hukum Kasih Karunia?


Silahkan pilih : Anda masih dibawah 613 Hukum tanpa boleh cacat melaksanakannya, ataukah cukup dibawah 2 hukum Kristus saja?


Jelas bahwa PERSEMBAHAN BUAH SULUNG, bukanlah persembahan dari keseluruhan income/ keseluruhan gaji pertama. Allah kita dalah Allah yang bijaksana. Ia tentu tidak akan berlaku sebagai tukang palak yang merampas keseluruhan hasil jerih payah umatnya, dan tentu saja Allah tahu bahwa manusia mempunyai banyak kebutuhan untuk hidup. Maka jikalau Dia meminta keseluruhan hasil income, maka tentulah Dia bukan Allah yang adil.
 Pengajaran ini terjadi karena orang-orang yang menamakan dirinya hamba Tuhan menjadi tamak dan menjadikan gereja sebagai ajang komersialisasi.

 

Semoga kebenaran ini memerdekakan saudara!

Amin.