16:02:30 - 06.02.2016
Powered By JosXP.com

Anda Pengunjung ke:

Untuk Kalangan Sendiri

Website Ini Untuk Kalangan Sendiri, Untuk Kalangan Kristen dan Katolik. Artikel di ambil dari berbagai sumber.
Isi di luar tanggung jawab redaksi.

S u r v e y

Apakah anda percaya adanya Surga dan Neraka?
 
Selain Yesus, siapakah Tokoh Alkitab favorit anda?
 
Jika anda mati malam ini, anda akan pergi ke:
 
Baptisan Apa Yang Anda Alami
 
Apakah Anda Memberi Persepuluhan Ke Gereja?
 
HOME
Welcome to YesusKristus.com
TRANSPARAN DALAM KEUANGAN GEREJA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan Gambar: Pdt Kong Hee yang terbukti menyalahkan gunakan keuangan gereja sebesar $50 juta untuk membiayai karir menyanyi sekuler istrinya Sun Ho. 

TRANSPARAN DALAM KEUANGAN GEREJA

 

Apa kata Alkitab tentang keuangan gereja?

Apakah benar semua perpuluhan dan persembahan adalah hak 100% milik gembala?

 

 

            Alkitab membukakan rahasia kehidupan. Dalam 1 Timotius 6:10 bahwa akar segala kejahatan adalah cinta uang. Bila Alkitab membuka selubung ini maka kita harus benar-benar mau mengerti . Tentu iblis akan menggunakan sarana ini untuk menjatuhkan banyak orang. Oleh karenanya kita harus membawa kebenaran Firman Tuhan berkenaan dengan hal ini.

            Walau hal ini sudah sering disebut dalam kehidupan gereja Tuhan, tetapi kenyataannya banyak orang Kristen masih terjebak dalam dosa ini. Cinta uang dalam teks aslinya :”philarguria”, dari kata Fileo dan argurion. Fileo cinta persahabatan . Mencintai uang di sini sama dengan bersahabat dengan uang atau kekayaan. Sikap ini sama dengan apa yang dikalimatkan oleh Yakobus “mengasihi dunia”. Dalam Injil Matius inilah yang disebut sebagai kekuatiran dunia atau percintaan dunia akibat tipu daya kekayaan (Mat 13:22). Cinta uang ini juga sejajar dengan apa yang ditulis oleh Yohanes sebagai “mengasihi dunia” (1Yoh 2:15-17).

 

            Bentuk-bentuk Penyesatan Berkenaan Dengan Uang

 

1. Konsep memberi persembahan yang salah.

2. Konsep berkat yang salah.

3. Penggunaan uang yang salah dalam gereja.

 

            Secara cepat perlu dijelaskan di sini pokok-pokok masalah di atas sebagai berikut :

 

1.                   Konsep Persembahan yang Salah.

 

            Dalam lingkungan anak-anak Tuhan pengertian persembahan harus dipahami dengan tepat. Persembahan bukanlah memberi, tetapi mengembalikan. Kebenaran ini dapat kita peroleh melalui pernyataan Paulus dalam 1Kor 6:19-20. Bahwa kita bukan milik kita sendiri. Kita telah ditebus oleh Tuhan Yesus dengan harga yang lunas dibayar yaitu dengan darahNya. Kita tidak berhak atas diri kita. Apapun yang  kita miliki adalah milik Tuhan. Gereja harus mengajar bukan memberi bagi Tuhan tetapi mengembalikan milik Tuhan.

            Cara kita bersikap terhadap jemaat Tuhan yang memberi persembahan harus benar. Oleh karena porsi yang diberikan Tuhan kepada masing-masing kita berbeda maka jumlah persembahan yang dipersembahkanpun juga berbeda jumlahnya. Jumlah bukanlah ukuran kesetiaan. Seorang janda yang memberi persembahan dua peser diakui  Tuhan Yesus  sebagai  memberi lebih banyak.(Luk 21:1-4). Penghargaan kita kepada mereka yang memberi persembahan tidak boleh menyesatkan. “Keramahan” yang berlebihan kepada mereka yang memberi lebih banyak dalam jumlah akan disesatkan oleh sikap kita tersebut. Keramahan yang berlebihan tersebut mendidik atau memberi petunjuk seolah-olah ia berjasa kepada Tuhan.

            Demikian pula dalam hal memberi perpuluhan, jemaat harus menyadari bahwa mereka mengembalikan apa yang menjadi milik Tuhan untuk kepentinganNya. Jangan memberi sepersepuluh yang diakui sebagai milik Tuhan sedangkan yang lain diakui sebagai milik pribadi bukan milik Tuhan.

 

 

2.                   Konsep Berkat Yang Salah.

 

            Tidak dapat disangkal bahwa telah tercipta ajaran yang salah dalam gereja. Bahwa gereja dapat menjadi dealer berkat jasmani. Dengan demikian gereja dapat menciptakan firdaus di bumi, dalam bentuk tercukupinya kebutuhan finansiil dan fasilitas hidupnya yang lain. Bila pemahaman ini tercipta dalam gereja, maka sudah barang tentu motifasi jemaat berurusan dengan Tuhan  menjadi rusak. Ini sama dengan motivasi orang Yahudi mencari Yesus. Mereka mencari Yesus karena roti (Yoh 6:25-26). Pendidikan yang salah ini mempersiapkan orang Kristen menjadi Kristen yang lemah, tidak berpondasi teguh, tidak dapat bertumbuh dan calon pengkhianat bagi Tuhan. Seperti pendudukan Yerusalem, dari kata “halleluyah” menjadi salibkan Dia. Bila hal ini terjadi tentu konsep berkat sudah salah pula, sebab berkat selalu diukur dengan uang atau fasilitas jasmaniah. Kalau hanya berkat jasmani iblis pun dapat menyediakan (Luk 4:5-8).

            Gereja harus mengajarkan bahwa mengiring Yesus justru harus meninggalkan hasrat ingin memiliki dunia atau harta jasmaniah (Yak 4:4; 1Yoh 2:15-17; 1 Tim 6:7-10). Ke gereja bukan bermaksud supaya hidup ini dapat dijalani lebih mudah sebab Tuhan akan menyediakan fasilitas jasmaniah dengan mudah dan kita bisa menciptakan firdaus di bumi, tetapi mengiring Yesus justru menjadikan hidup lebih sukar. Kita hidup di tengah-tengah dunia yang gelap dan kita harus menjalani hidup dunia ini dengan hukum Kristus.

            Penyesatan dalam hal ini sangat efektif menghancurkan kehidupan masing-masing anak-anak Tuhan. Mereka mudah terjerat untuk cinta uang, sebab mereka berharap dengan jumlah uang banyak mereka menemukan damai sejahtera.

 

 

3.                   Penggunaan Uang yang Salah Dalam Gereja.

 

            Mengapa terdapat banyak orang Kisten yang tidak rela memberi untuk Tuhan pada hal mereka harus menjadi bagian dari laskar Kristus yang mendukung pekerjaan Tuhan. Salah satu penyebabnya dan bisa menjadi penyebab utama adalah kesalahan gereja menggunakan persembahan. Yang terjadi di banyak tempat adalah semena-mena menggunakan uang untuk kepentingan keluarga pendeta/gembala. Gereja harus benar-benar mengelola uang Tuhan tersebut untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Dengan kesadaran ini maka seorang gembala sidang atau pimpinan gereja tidak perlu takut kalau anggota jemaat mempertanyakan penggunaan uang persembahan mereka. Jemaat berhak mempertanyakan dengan jelas penggunaan uang Tuhan tersebut.

 

                     Beberapa gembala meng-klaim bahwa perpuluhan adalah hak 100% gembala dengan mengacu ayat di perjanjian lama. Padahal kita haruslah mengerti bahwa Hukum Taurat dan Hukum Musa adalah untuk orang Yahudi. Kita harus mengacu kepada Perjanjian Baru dan melihat contoh di Kitab Para Rasul mengenai gereja mula-mula mengelola keuangan.

 

 

Kisah Rasul 2:44-45

 

2:44

Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,

2:45

dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.

 

Pendeta/Gembala berkepentingan untuk membantu jemaat yang bekekurangan dengan menghimbau orang yang kaya/berkelebihan untuk membagi/menolong sehingga tidak ada jemaat yang berkekurangan. Jadi tujuan semua keuangan gereja adalah supaya tidak ada jemaat yang berkekurangan supaya nama Yesus di tinggikan.

 

 

Dan lagi di Kisah Rasul 4:32-35

 

4:32

Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.

4:33

Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.

4:34

Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa

4:35

dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.

 

 

Perhatikan dengan baik! Ayat 35 mengatakan letakan di depan kaki ‘rasul-rasul’ (kata jamak, bukan satu orang), jadi tidak bisa di claim untuk hak seseorang. Dan lagi dikatakan bahwa di bagi-bagikan untuk orang yang memerlukan. Gereja yang benar adalah tidak ONE MAN SHOW (pelayanan satu orang), yang benar dalam organisasi gereja harus ada dewan penatua/diaken/pengerja.

 

 

Kisah Rasul 14:23

 

Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka.

 

 

 

            Jemaat tidak boleh berpendirian: yang penting sudah memberi, terserah bagaimana gereja dalam hal ini pendeta menggunakannya. Dengan kesadaran ini pula pimpinan jemaat tidak takut melibatkan stafnya yang takut akan Tuhan turut mengelola keuangan gereja secara transparan. Kita harus mempertanyakan dengan serius dikemakan uanng Tuhan yang dipercayakan kepada kita itu. Ingat kita adalah kasir Tuhan. Dengan sikap proteksi ini kita menghindarkan pemimpin gereja dan keluarganaya mencuri milik Tuhan.

 

            Dalam perjanjian Lama persembahan dikelola bukan oleh satu orang tetapi oleh para imam dan digunakan bagi kepentingan pelayanan. Dalam Kisah para rasul juga ditemukan bahwa para rasul memberi perhatian kepada doa dan Firman, sedangkan pelayanan “meja” diakoni dikelola oleh satu team pelayanan.

 

            Dalam kisah para rasul terdapat suatu perrsekutuan di mana milik masing-masing dapat menjadi milik bersama. Sehingga tidak ada yang berkekurangan (Kis. 2:34-37). Apakah hal ini mustahil untuk jaman kita, tentu tidak. Gereja dapat menjadi katalisator yang baik untuk menerima persembahan jemaat yang berkelebnihan dan membaginya bagi yang berkekurangan. Ini bukan berarti gttereja dapat menjadi lahan manipulasi orang yang malas bekerja. Dalam hal ini perlunya persekutuan kelompok kecil yang saling memperhatikan. Perlu adanya gembala-gembala kecil yang menggembalakan umat Tuhan. Kas gereja  harus mendukung terselenggaranya pelayanan diakonia semua jemaat yang turut dikontrol “gembala-gembala kecil”. Kesalahan pengelolaan uang ini membuat jemaat tidak mempercayai gereja, sehingga akhirnya potensi yang dapat disinergikan untuk kepentingan kerajaan sorga terbias untuk hal lain.

 

            Jemaat harus menyadari bahwa semua kita harus memperhatikan pekerjaan Tuhan. Kerja dapat diperhitungkan Tuhan sebagai kerja yang benar, bila kerja ditempatkan pula dalam rencana agung Tuhan menyelematkan dunia ini. Tujuan kerja bukanlah uang, pada akhirnya tujuan kerja adalah keterlibatan masing-masing individu bagi pelebaran Kerajaan Allah atau Injil Yesus Kristus.

 

 

 

Kesimpulan:

1.       Keuangan gereja harus  transparan.

2.       Penatua dan Pengerja dapat mengetahui penggunaan gereja. Gembala hanyalah pengelola bukan pemilik uang gereja.

3.       Penggunaannya harus dapat di pertanggungjawabkan.

4.       Prioritaskan keuangan gereja untuk menolong orang yang berkekurangan dalam gereja seperti di Kisah Para Rasul.

5.       Keuangan gereja yang tidak transparan dapat di curigai penyalahgunaan di dalamnya.

 

 

  

 
Penipuan Dalam Gereja

Enam tokoh gereja Singapura 'bersalah' atas penipuan

 

 

pemimpin gereja singapuraImage copyrightEPAImage captionKong Hee (kanan) didakwa bersalah menggunakan uang gereja untuk mendorong karier musik istrinya, Sun Ho (kiri).

 

Enam tokoh sebuah gereja di Singapura dinyatakan bersalah melakukan penipuan senilai S$50 juta atau setara dengan Rp492 miliar.

Hakim pengadilan Singapura menetapkan pendeta Gereja City Harvest, Kong Hee, bersalah karena menggunakan uang gereja sebesar S$24 juta untuk mendanai karier musik istrinya, Sun Ho.

Kong Hee dan lima figur lainnya dinilai mencoba menutupi penggelapan uang dengan membuat investasi palsu. Dana sebesar S$26juta kemudian dihabiskan untuk investasi palsu tersebut.

Hakim See Kee Oon lalu mendakwa Kong Hee dan mantan anggota majelis jemaat gereja, John Lam, dengan pasal pidana pelanggaran kepercayaan.

Adapun pendeta senior Tan Ye Peng, anggota majelis gereja Chew Eng, dan dua mantan manajer keuangan gereja, Serina Wee dan Sharon Tan, didakwa dengan pasal pidana pelanggaran kepercayaan dan pemalsuan rekening.

Hakim menyebut fakta-fakta kasus itu ‘umumnya tidak terbantahkan’ dan ‘bukti-bukti menunjukkan mereka bertindak tidak jujur’.

pemimpin gereja singapura Image copyrightAFPImage captionPemimpin gereja City Harvest Church (CHC), pendiri Kong Hee (tengah), Serina Wee,mantan manajer keuangan (kiri), Sharon Tan (kanan)

Sejauh ini hakim belum menjatuhkan hukuman. Namun, mereka terancam kurungan penjara seumur hidup.

Jaksa penuntut mengatakan penggelapan dana itu terjadi antara 2007 dan 2008, lima tahun setelah Sun Ho memulai karier musiknya. Sun Ho memiliki beberapa album lagu dalam bahasa Mandarin yang beredar di Cina dan Taiwan.

Dia juga pernah berkolaborasi dengan musisi asal Amerika Serikat, seperti Diane Warren dan Wyclef Jean, dalam album musik berbahasa Inggris.

Menjangkau

Para terdakwa senantiasa mengklaim mereka tidak bersalah. Mereka juga berkilah bahwa karier musik Sun Ho merupakan cara untuk menjangkau orang-orang non-Kristen.

pemimpin gereja singapuraImage copyrightAFPImage captionTan Ye Peng (kiri), John Lam (tengah), and Chew Eng Han.

City Harvest ialah salah satu gereja terkaya di Singapura dengan jumlah jemaat mencapai 30.000 orang di Singapura. Gereja itu mengaku memiliki 48 afiliasi di sejumlah negara, termasuk Malaysia, Indonesia, India, Taiwan, Brunei, dan Australia.

Melalui pernyataan yang dirilis melalui situs resmi Gereja City Harvest, Sun Ho mengatakan para terdakwa ‘kecewa dengan hasil’ pengadilan.

Dia berterima kasih kepada para jemaat gereja atas ‘kesetiaan kepada Tuhan dan saling mengasihi’. 
 
 
Sumber: BBC Indonesia