08:04:36 - 24.11.2017
Powered By JosXP.com

Anda Pengunjung ke:

Untuk Kalangan Sendiri

Website Ini Untuk Kalangan Sendiri, Untuk Kalangan Kristen dan Katolik. Artikel di ambil dari berbagai sumber.
Isi di luar tanggung jawab redaksi.Jika ada pertanyaan, silahkan email redaksi = admin@yesuskristus.com
HOME arrow KESAKSIAN arrow Kesaksian Henry Surentu
Kesaksian Henry Surentu PDF Print E-mail

Henry Surentu, Aktor Laga Yang Dilepaskan Dari Dosa Masa Lalu

detail_img

Pesona Henry seperti magnet yang menyihir para gadis untuk melakukan hal-hal yang asusila. Henry sangat menikmati petualangan liarnya bahkan dengan mudahnya dia melepas keperjakaannya kepada pekerja seks.

Namun bukan hanya pelacur yang dia tiduri bahkan pacarnya pun ditiduri hingga hamil. Henri mengugurkan kandungan pacarnya sebanyak dua kali dengan dua orang yang berbeda, alasannya belum siap menikah dan ingin mendahulukan karir lebih dulu.

Kemampuannya bersandiwara di depan banyak orang semakin membuat dia yakin akan masuk ke dunia artis. Sebuah kesempatan pun datang.

“Saya sudah pakai jas. Exciting, kan baru pertama kali  padahal hanya menjadi seorang figuran saja,” kenang Henry.

Namun  saat impian itu sudah ada di depan mata, sebuah kejadian yang tak pernah terbayangkan terjadi. Tiba di lokasi syuting Henry dimarahi dan diusir dari sana.

“Waktu itu saya bilang kalau suatu saat saya akan menjadi pemeran utama,” kisahnya.

Kata-kata itu bukanlah isapan jempol. Dengan perjuangan yang panjang, Henry berusaha membuktikan ucapannya bahkan dengan cara yang tidak wajar. Sebagai foto model, dia terjerat berhubungan dengan seorang sponsor yang adalah penyuka sesama jenis. Dia dijanjikan akan segera menjadi orang top. Usaha itu membuahkan hasil, sebuah tawaran yang dia tunggu-tunggu akhirnya datang.

“Rasanya seperti mau loncat karena akhirnya dapat peran utama. Akhirnya saya berangkat ke Hongkong. Setelah film drama, saya main film aktion,” kisah Henry.

Ketenaran telah menyihir mata Henry seperti kacang lupa kulitnya, ia meninggalkan sang sponsor. Sehingga dia marah besar. Demi menunjang karirnya, Henry pun rela menjadi budak pemuas seks tante-tante kesepian. Seorang teman menyarankan kalau dia ingin top, dia harus mengaet tante-tante untuk mendapatkan pakaian secara gratis dan mobil yang bagus.

Nama Henry meroket cepat lewat beberapa film yang dia bintangi. Dunia seakan berada dalam genggamannya.

“Itu kan tujuannya untuk memuaskan, pertama kali kesenangan, tenar, dipuja-puja. Itulah yang saya cari pada waktu itu. Karena masa kecil saya sangat susah. Bahkan sebelum top, saya pernah dilecehkan perempuan karena orang susah. Ini salah satu pemicu, nanti lihat perempuan yang akan kejar-kejar saya, bukan saya yang kejar perempuan,” kata Henry.

Di masa keemasannya, Henry bertemu dengan gadis baik-baik, yang kemudian ia nikahi. Itu pun karena desak orang tuanya.

“Sebenarnya sama dia jujur saja waktu itu, namanya masih bajingan, ya, tujuannya suatu saat saya akan tidur sama kamu,” kata Henry.

Demi mengambil hati istri dan mertuanya, Henry pun berjanji meninggalkan dunia keartisannya. Tapi janji tinggallah janji, setelah satu setengah tahun pernikahannya, diam-diam Henri kembali ke dunia lamanya.

“Wah, saya benar-benar kaget sekali waktu dia bilang syuting. Pada waktu syuting di sana, hati saya tidak tenang, campur aduk perasaan saya pada saat itu, ” ungkap Heidy, istri Henry.

Namun Henry berjanji hanya akan main di satu film itu saja. Tetapi lagi-lagi janji tinggal janji karena Henry mendapatkan tawaran lagi. Dan Henry mulai lupa diri, gairahnya kembali bergejolak ketika melihat wanita muda dan cantik. Namun gelagat aneh dan kebusukan Henry akhirnya menimbulkan kecurigaan. Heidy pun nekat menanyai suaminya.

“Tanggapan dia atau perkataan dia yang saya masih ingat. Dia katakan, ’Ya sudahlah, kamukan sudah menjadi istri saya. Jadi saya merasa apakah saya hanya sebagai status saja, istri. Hingga saya merasakan sebagai istri saya tidak berharga,” kata Heidy.

Bukan hanya Hedi yang merasa sakit, anak-anaknya pun tak luput dari kekerasan Henry. Jika anak melakukan kesalahan sedikit saja, Henry langsung menghajarnya sampai benar-benar kapok dan bertobat. Henry akan tetap menghajar anaknya meskipun mereka sudah minta ampun. Tangisan sang anak dan jeritan Heidy tak sanggup menghentikan kekejaman Henry. Dihajarnya anaknya di dalam kamar hingga berdarah-darah. Sementara Heidy berusaha mendobrak pintu karena pintu dikunci dari dalam. Tapi usahanya sia-sia.

“Bekas tangannya itu kelihatan sekali dan mulai agak bengkak. Dengan darah dagingnya saja dia bisa seperti itu, saya tidak mengerti,“ ungkap Heidy.

“Jujur saya ketika kecil saya juga dihajar sama orang tua. Saya pikir pola itu bisa saya terapkan juga kepada anak saya,” kata Henry.

Entah sampai kapan Heidy harus bertahan menghadapi tabiat buruk suaminya. Keputusasaan mulai merasuk bathinnya

“Saya ingin sekali berdoa tetapi saya tidak ingin mengganggu tidur suami saya. Akhirnya saya memilih meja mesin jahit, saya ambil selimut, saya tutupi dan saya taruh lampu di dalam,” kisah Heidy.

Di bawah tempat yang sempit itulah, Heidy menjerit kepada Tuhan, “Tuhan aku mencintai Engkau, tapi saya tidak tahan lagi seperti ini. ternyata laki-laki yang Kau berikan kepada saya tidak pernah memberikan kebahagiaan selama 20 tahunan. Saat saya serahkan kepada Tuhan, saya letakkan di bawah kakinya Tuhan bertindak,” kisah Heidy.

Pada saat itu, Heidy seperti mendapatkan kekuatan baru untuk bisa bertahan. Bersama kedua buah hatinya, dia terus mendoakan suaminya.

“Saya tahu apa yang Tuhan buat pasti baik. Ini menjadi sebuah perenungan bagi saya. Saya juga percaya bahwa suami saya itu sesungguhnya dalam hatinya adalah orang yang sangat baik, sangat mempedulikan keluarga tapi ada yang menghalanginya untuk bisa keluar dari lingkupan itu,” ungkap Heidy.

Namun keadaan terlihat tidak berubah sedikit pun, sampai sebuah undangan memaksa Henry untuk mengikuti sebuah pertemuan. Sepanjang perjalanan ke pertemuan itu, Henry tak henti-hentinya mengomel apalagi ketika sampai di tempat tidak mendapatkan parkiran. Henry mulai marah-marah lagi namun akhirnya mereka mendapatkan tempat parkir. Dengan berat hati, Henry akhirnya masuk ke tempat pertemuan itu.

Namun saat dia duduk diam, perkataan seorang pembicara mulai mengusik nuraninya.

“Dia bilang kita harus hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Perzinahan, percabulan harus kamu tolak semua, harus kamu buang dari hidup kamu. Karena kalau tidak kamu tidak akan sampai kepada tempat tujuan. Tuhan menghendaki supaya kita masuk surga, tetapi kalau kita tetap hidup dalam perzinahan, percabulan, dan hidup tidak taat maka kita tidak mendapat bagian, sesuai dengan firman Tuhan,“ kenang Henry.

Pada saat mendengar kata-kata itu, Henry langsung kaget. Tiba-tiba Henry merasa seperti ada sesuatu yang mendobrak hatinya. Ada rasa ngeri jika dia tidak bertobat. Dan tanpa disadari Henry, air matanya mulai berlinang namun dia berusaha menutupi supaya istrinya tidak tahu.

“Saya merasa bersalah kepada Tuhan karena telah mempermainkan Tuhan selama ini dan saya melakukan pengakuan. Saya merasa jijik dan tidak layak di hadapan Tuhan atas apa yang sudah saya lakukan. Setelah melakukan pengakuan, saya benar-benar merasa lega,” ungkap Henry.

Hari itu adalah titik balik dan awal perubahan hidup Henry. Bahkan dengan berani, Henry mengakui semua kejahatan yang pernah dia lakukan kepada istrinya. Henry menceritakan perselingkuhan yang pernah dia lakukan dengan orang yang dikenal istrinya. Henry melihat istrinya begitu, dia benar-benar sakit hati. Sementar Henry hanya diam saja sampai istrinya bisa menerimanya.

“Memang tidak mudah bagi saya namun saya mau menjalaninya karena ini sudah menjadi satu tekad saya untuk tetap ada dalam jalurnya Tuhan,” kata Henry.

“Saya tahu saya harus mengampuni dia dengan tulus dan murni tetapi yang menghibur saya bahwa dia mau jujur dia mau mengakui dan itu harus saya hargai. Banyak sekali perubahannya. Lebih sabar dan bisa mengendalikan emosinya, tidak cepat berpikir secara negatif,” ungkap Heidy.

“Tuhan Yesus itu bagi saya sangat luar biasa. Dia tidak peduli dosa kita sebesar apa, tapi yang Dia peduli adalah ketika kita bertobat, kita mengakui segala dosa kita, kita merendahkan diri di hadapan dia,” kata Henry menutup kesaksiannya. (Kisah ini ditayangkan pada tanggal 13 Mei 2010 di O’Channel)

Sumber Kesaksian:

Henry Surentu & Heidy Stijns

 

Add comment

Security code
Refresh